Sunday, September 15, 2019

Resensi Rumah Teteh

 Resensi Rumah Teteh

Sinopsis Rumah Teteh

Hal misterius datang silih berganti, menuntun kami untuk bertemu Teteh di rumahnya. Dua tahun lebih menghadapi banyak kejanggalan yang mencekam dan menakutkan, menjadi fase hidup yang tidak akan pernah terlupakan.

Teteh, sosok dengan garis nasib yang menggurat sampai ke nadi, menghadirkan perih di tempat yang terdalam. Perasaannya menjerit menembus dua sisi alam, seperti sedang mencari jawaban dalam kesendirian. Kami mendengar dan merasakan semuanya, di Rumah Teteh.


Data Buku

Judul: Rumah Teteh
Pengarang: @BriiStory
Penerbit: Pastel Books
Tahun terbit: Juli 2019
Tebal halaman: 232 halaman
ISBN: 978-602-6716-51-4
Harga: Rp 75.000.

Feels Familiar

Ahahahah... serius. Membaca buku ini rasanya familier banget bagiku. Bukan karena aku pernah satu kosan sama Brii dkk. Bukan. Kenal juga enggak. 
Ketika Brii masuk ke PTN di Dipati Ukur itu, aku udah lulus. Itu pun fakultasku bukan di Dipati Ukur melainkan di Jatinangor.
Rasa familier itu karena aku dan keluargaku pernah mengalami gangguan serupa (tapi tak sama). Di rumah juga. Bertahun-tahun juga. Bahkan jenis "mimpi" seperti yang dialami Brii pun pernah kualami. Namanya mimpi astral. Mimpi tapi keseret masuk ke alam astral.
Membaca Rumah Teteh yang berlokasi di kotaku, Bandung, pun otomatis membuatku menerka-nerka lokasinya.
Kawasan Jalan Cikutra. Bukan jalan utamanya tapi jalan di sisi Cikutra. Beraspal. Mobil bisa masuk. Cukup ramai. Di manakahhhh itu lokasi tepatnya? 
Halah! Jadi kepo gini kan!

Horornya Cerita Horor

Bagiku, ada tiga hal yang bikin cerita horor terasa horornya.

1. Penulisannya rapi.

Tulisan horor yang viral di dunia maya baru-baru ini kurang terasa efek seramnya bagiku karena banyaknya typo, penggunaan tanda baca yang ngawur, dsb. Entah kalo udah jadi buku. Sekarang lagi proses terbit di sebuah penerbit besar, kan. 

2. Kedekatan lokasi.

Makin deket lokasinya, makin familier tempatnya, makin merinding bacanya. 

3. Waktu membaca. 

Bacanya malam-malam, terus tiba-tiba hujan deras plus mati listrik. Kelar deh gw!

Rumah Teteh terasa horor bagiku karena nomor 1 dan 2 terpenuhi. Nomor 3 gak perlu dicoba. Ngebayanginnya aja aku udah stres duluan.
Eh, ada sedikit ganjelan teknis sih di Rumah Teteh. Di beberapa halaman ada pemenggalan kata yang salah serta penggunaan huruf besar yang keliru setelah tanda petik tutup.
Resensi Rumah Teteh
Tak ada buku yang tak retak oleh typo :)

Kalau mata kalian nggak auto nyari typo kayak aku (padahal aku pengennya baca doaaaang sekadar buat refreshing), kayaknya nggak bakal nyadar sih.
Tapi dibandingkan dengan tulisan asli Brii di Twitter, yang di buku ini sudah jauh lebih rapi dan nyaman dibaca.
Oya, sebelum aku posting resensi suka-suka ala Ada Resensi ini, ada teman bertanya di FB, "Gaya berceritanya lompat-lompat nggak?"
Kalau di Twitter kan sering ada kalimat
  • Ntar deh gw ceritain tentang ini.
  • Lihat thread gw sebelum ini deh.
  • Yang belum kenal sama Teteh, baca thread ini dulu deh.
Dan kalimat-kalimat semacam itu. Nah, di bukunya gimana?
Brii beruntung, Rumah Teteh diterbitkan oleh Pastel Books (Grup Penerbit Mizan). Grup Penerbit ini memiliki editor-editor yang bisa diandalkan. Satu-dua typo yang lolos mah wajar.
Yang menarik, editor, layouter, dan ilustrator buku ini katanya "diganggu" pas menggarap naskah Rumah Teteh. Aku baca soal gangguan ini di cuitan Brii (Helow, Briiiii. Folbek aku yak).

Aku pernah nulis nih tentang Pengalaman Mengedit Cerita Horor. Iya, apes banget mengalami gangguan-gangguan begitu.
Lompat-lompatan dan kasih link ke sana ke sini ala tulisan di Twitter, FB, dan blog itu udah nggak ada. Cerita Rumah Teteh jadi lebih runtut, lebih mengalir, lebih enak dibaca, dan lebih terasa seramnya.

novel rumah teteh

Siapakah Teteh?

Jelas, Teteh ini adalah seorang perempuan Sunda. Tapi, siapakah Teteh yang menjadi titik sentral dalam buku based on true story ini?
"...Teteh penghuni rumah ini juga, tapi jarang kelihatan." (halaman 174).
Gitu jawaban Brii ketika Rai bertanya-tanya tentang Teteh yang menerima teleponnya dan menunjukkan ancer-ancer menuju rumah, yang membukakan pintu rumah, yang memberi tahu letak kamar Brii padanya, yang menunjukkan di mana kamar mandi ketika Rai hendak berwudhu....
Siapa Teteh terungkap setelah kedatangan Rai. Dan aku, menarik napas panjang ketika menemukan beberapa persamaan antara aku dan Teteh....
Heran ya. Kenapa sih perempuan cantik, lembut, kalem, dan sabar tuh malah disemena-menain sama laki-laki? #nangiskejer
Karena aku nangis kejer, resensinya udahan aja ya. Dadah!

Resensi suka-suka lainnya bisa dibaca di sini:



Cheers,
TR

Mohon maaf, komentar dengan link hidup akan saya hapus. Thanks.

Contact Form

Name

Email *

Message *