Monday, June 3, 2019

Berbahasa Indonesia di Media Sosial


berbahasa indonesia di media sosial

Blurb

Ada gaya pembelajaran baru yang sangat erat dengan dunia remaja dan kegemarannya. Generasi muda itu selalu lekat dengan media sosial. Bisa jadi mereka malah kecanduan medsos. Hal itu bisa dimanfaatkan oleh guru untuk melaksanakan proses pembelajaran seperti di kelas reguler.

Proses belajarnya akan sangat menarik. Siswa juga akan sangat antusias mengikutinya. Mereka tak akan bosan, tak akan mengantuk, dan tak akan malas. Mereka akan asyik belajar dengan media sosial, khususnya Facebook. Mereka akan antusias, karena itu adalah dunianya.
Bagaimana sebuah atau mungkin beberapa buah media sosial dapat dijadikan sebagai sebuah media pembelajaran Bahasa Indonesia? Buku ini akan tuntas membahasnya. Cara, Materi Pengayaan, sekaligus Evaluasi Pembelajaran dimuat dalam buku ini. Panduannya sangat lengkap. Guru, orang tua, dan remaja, atau siapa pun bisa melaksanakannya dg mudah. Tak perlu bingung membuat para remaja senang belajar bahasa Indonesia. Buku ini solusinya.

Judul: Transformasi Media Sosial ke Bahasa Indonesia 
(Sebuah Panduan Alternatif Media Pembelajaran Bahasa Indonesia)

Penulis: Sri Rahayu Setiawati
Penerbit: Pustaka Media Guru
Cetakan: 1
Tahun Terbit: Agustus 2017
Tebal : viii + 70 halaman
ISBN: 978 -602-5429-31-6

Bahasa di Era Media Sosial

Ehm. Buku serius, nih. Tentang media pembelajaran bahasa Indonesia. Tapi boleh dong ya aku ulas dengan gayaku sendiri.
Udah tau kan kenapa aku memilih mengulas buku alias meresensi buku dengan gaya suka-suka bercampur curhat?
Pernah tuh kusebutkan kenapanya saat meresensi buku The Ghost, Dongengan Naga, dan Hujan (Tere Liye).
Yuklah ngobrolin buku bersampul putih dengan gambar logo-logo media sosial ini.
Tentang berbahasa di media sosial ini aku berusaha fair melihat dari dua sisi. Di satu sisi, media sosial membuat sebagian orang kebablasan berkata-kata. Caci maki, sumpah serapah, isi kebun binatang, hingga kosa kata di dunia per-“enaena” keluar tanpa kendali. Belum lagi konten-konten pornografi yang begitu mudah ditemukan.
Di sisi lain, sebagian orang justru terasah kemampuan berbahasanya melalui media sosial. Berbagai komunitas dan kelas menulis yang ada di media sosial, terutama Facebook, menjadi tempat mereka berguru.
Jangan salah. Komunitas dan kelas menulis di Facebook itu sering diampu oleh para penulis senior.
Dua sisi ini juga yang rupanya mengilhami Sri Rahayu Setiawati untuk melakukan penelitian tentang pembelajaran bahasa Indonesia di media sosial.

Belajar Bahasa Indonesia di Facebook

Yayu, begitu guru Bahasa Indonesia di SMPN 1 Cimahi ini biasa disapa, membuat grup Teratai Bahasa di Facebook. Grup ini khusus untuk murid-muridnya.
Pembuatan grup ini dimaksudkan untuk memfasilitasi siswa berbahasa Indonesia, khususnya dalam menggunakan ragam bahasa yang resmi. (halaman 21)
Seperti umumnya di grup-grup Facebook, di grup ini para siswa bisa mengunggah tulisan dan foto, mengomentari, bertanya, menjawab pertanyaan, dan sebagainya.
Menariknya, ternyata proses pembelajaran di grup Facebook ini justru lebih hidup daripada pembelajaran di kelas.
Emh … mungkin karena kalo di medsos murid-murid nggak perlu bersuara secara lisan ya? Haha … aku juga gitu sih.
Gimana cara pembelajaran di grup Facebook ini?

Ada tiga tahap pembelajaran yang dilakukan oleh Yayu.

1. Siswa dibebaskan menggunakan Facebook sesuai dengan keinginannya. Syaratnya hanya satu, yaitu menggunakan bahasa Indonesia (halaman 22).
2. Pembelajaran secara terstruktur dengan memberikan materi khusus, yaitu foto bercerita, kesalahan berbahasa, pantun, sonian, dan haiku (halaman 23).
3. Siswa diwajibkan mengirimkan tulisan hasil karyanya sendiri. Karya-karya itu sesuai dengan materi pembelajaran di tahap kedua atau materi pembelajaran bahasa Indonesia di kelas regular (halaman 24).
Bisa ditiru nih, caranya. Hari gini, anak milenial kan akrab banget dengan gadget dan media sosial. Daripada melarang-larang mereka atau mencurigai aktivitas mereka bermedia sosial, mending rangkul mereka dengan cara begini.
Supaya nggak bosen, bisa tiru cara Yayu mengundang guru tamu. Salah satunya Vivera Siregar untuk materi Foto Bercerita.
Seru, nih. Jadi, ada satu foto diunggah di grup. Kemudian anak-anak diminta menceritakan foto itu. Bebas mau berimajinasi seperti apa. Bebas mau menganalisis gambar di foto itu, menulis dongeng, puisi, atau apa pun yang mereka inginkan.
Gimana? Mau mencobanya?

Beban Sebuah Buku Bahasa

Bagiku, sebuah buku tentang pembelajaran bahasa Indonesia punya beban tersendiri. Beban apa tuh? Bisa nebak nggak?
Yoi, beban untuk menggunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar. Menggunakan kata baku, diksi yang tepat, penulisan yang benar, kalimat efektif, minim typo (salah ketik), serta tidak ada kalimat janggal seperti pada kasus pocong loncat-loncat di BPJS.
berbahasa di media sosial
Susah ya jadi pocong sekarang, mesti ngurus yang beginian juga.

Lalu buku ini gimana?
Ada beberapa kesalahan yang kutemukan di buku ini. Emang sih, nyari kesalahan orang lain tuh lebih gampang daripada nyari jodoh kesalahan sendiri.
Berikut beberapa kesalahan yang kudapatkan di halaman 10 dan 11 buku ini.
berbahasa di media sosial
Halaman 10 dan 11.

1. syaraf

Yang baku menurut KKBI Edisi V adalah saraf.

2. Mengkerdilkan.

Jika awalan me bertemu kata dasar berawalan k, p, t, s, maka huruf awal k, p, t, s itu akan lebur. Dengan begitu, me + kerdil + kan = mengerdilkan.
3. bukan ?
Seharusnya, tidak ada jarak antara bukan dan tanda tanya. Cukup aku dan kamu aja yang berjarak karena belum dipertemukan di depan penghulu. Jadi, yang benar adalah:  bukan?

4. hanya para blogger WB saja

Hm … sebenernya cukup dengan hanya para blogger WB atau para blogger WB saja.

5. se-dunia

Yang benar adalah sedunia, tanpa tanda hubung (-). Kalau se-Indonesia mah bener pakai tanda hubung karena Indonesia diawali dengan huruf kapital.

Hal lain yang mengusikku adalah mengenai penulisan daftar pustaka dari media online.
Tidak cukup hanya menulis kompasiana.com, japanlunatic.do.am, pikiranrakyat.com, shantystory.com, atau yayuarundina.com.
Alamat web itu seperti alamat sebuah kompleks perumahan. Banyak rumah kan di sana? Trus kita mesti ke rumah nomor berapa?
Mengutip sumber dari internet mesti mencantumkan nama penulis, nama web, judul artikel, URL artikel yang dikutip, tanggal publikasi, dan tanggal kita mengaksesnya.
Kalau hanya ditulis “kompasiana.com”, gimana pembaca bisa menelusuri ke sumber awal?
Tentang penulisan daftar pustaka dari media online ini bisa dibaca lebih lanjut di artikel Penulisan Daftar Pustaka dari Internet.

Berharap pada Guru Bahasa Indonesia

Aktif bermedia sosial sejak 2009 membuatku sering melihat penggunaan bahasa yang bikin sakit mata.
Penggunaan bahasa gaul dan nonbaku sih bukan masalah bagiku. Cuma, mata mulai sakit nih kalau membaca tulisan alay. Misalnya:
  • gurux – maksudnya: gurunya
  • ibu’a – maksudnya: ibunya
  • rumahq – maksudnya: rumahku
  • satu x z – maksudnya: satu kali saja
  • Mw g y – maksudnya: mau nggak ya.

Mirisnya, ada saja guru yang juga berbahasa tulis seperti itu. Pak Hernowo (alm) pernah mengatakan bahwa bahasa alay adalah sebuah pemiskinan kemampuan berbahasa.

Khawatir nih, murid-murid yang diajar oleh guru alay juga akan meniru kealayan itu. Sama-sama pahamlah kita, contoh perilaku lebih mudah diserap dan ditiru dibandingkan segudang nasihat lisan.
Semoga ke depannya para guru (terutama guru Bahasa Indonesia) bisa memberikan teladan berbahasa yang baik. Buku ini dapat dijadikan pengingat untuk kita berbahasa Indonesia dengan baik dan santun di media sosial.

Cheers,
TR

2 comments:

  1. Nuhun teh Eno. Jeli bangets 😄😍

    ReplyDelete
  2. Suka sama resensi dari Teh Eno. Dan iya aku setuju dengan harapan Teh Eno semoga guru Bahasa Indonesia bisa memberikan contoh berbahasa yang baik :)

    ReplyDelete

Mohon maaf, komentar dengan link hidup akan saya hapus. Thanks.

Contact Form

Name

Email *

Message *