Saturday, June 1, 2019

Resensi Dongengan Naga

resensi buku dongengan naga


Aku suka kaver buku ini. Ya warnanya, ya ilustrasinya, ya tatapan jutek si Naga.
Yes, betul. Naga adalah seekor kucing. Kepala keluarga kucing di rumah Cikoneng. Pemuda harapan bangsa yang sabar menghadapi adik semata wayangnya dan bejibun keponakan.

Dongengan Naga ini ditulis oleh Dhenok Hastuti, yang oleh Naga disebut sebagai ibu yang tuwak dan pelupa.
Lalu, apa yang didongengkan oleh Naga dalam buku ini? 

Judul: Dongengan Naga
Penyunting: Dhenok Hastuti
Penerbit: 3CoolCats (self publishing)
Cetakan: 1
Tahun Terbit: Desember 2018
Tebal: viii + 110 halaman

Dongengan Naga, Si Kucing Cikoneng

Sebenernya, fair nggak sih kalo aku meresensi buku ini sedangkan posisiku sebagai salah satu endorsernya?
Ahahah … aneh aja kali ya. Jadi ini sebenernya bukan resensi, sih. Tapi sekadar ngobrol tentang buku Dongengan Naga ini.
Emangnya beda?
Ya … anggap aja beda, deh.
Yang jelas, orang-orang yang suka copas resensi buku di internet untuk dikumpulkan dan diakui sebagai tugas mereka, jadi males duluan.  Wehehe … puas banget akutu.
Di buku Dongengan Naga ini ada 13 cerita. Semuanya diceritakan dari sudut pandang Naga, si kucing berwarna kuning emas.
Cerita-cerita itu lepas. Dalam artian bacanya nggak perlu berurutan. Tapi kalo berurutan ya monggo. Jadi lebih mudah memahami asal mula kedatangan kucing-kucing penghuni  rumah Cikoneng.
Oya, warning aja nih. Kalo kamu gampang merasa jijik, sebaiknya jangan membaca Dongengan Naga ini sambil makan.
Bukan apa-apa. Aku khawatir kamu kehilangan nafsu makan atau malah muntah kalau pas nemu adegan pup.
Ya namanya juga kucing ngadongeng tentang kucing. Susah menghindari adanya adegan pup ini.
Aku termasuk yang nyesel baca buku Dongengan Naga ini sambil makan! Untung nggak sampai muntah. Makanya aku kasih peringatan ini.

resensi buku dongengan naga
Ubod lagi males difoto bareng Aa Naga, jadinya tampak punggung aja. 

Belajar dari Naga dan Para Kucing

Yang membuatku mau memberi endors untuk buku ini bukan karena ibunya Naga yang tuwak dan pelupa itu adalah teman kuliahku. Bukan. Aku sih belum tuwak meskipun kadang lupa naruh kacamata di mana.
Aku sempat sekitar satu tahun berteman dengan Aa Naga di Facebook, sampai dia menyeberang ke jembatan pelangi.
Satu tahun cukup untuk mengenal sisi-sisi menarik kepala keluarga Cikoneng itu. Yaaa … nggak perlu lama-lama buat tau sesautu itu menarik atau nggak. Untuk jatuh cinta sama kamu aja aku nggak butuh waktu lama, kan?
Banyak pelajaran hidup yang bisa diambil dari Aa Naga dan para kucing lainnya. Tentang tanggung jawab, kasih sayang, berbagi, keberanian, persaudaraan.
Bagian yang paling kusuka dari buku ini?
Aku paling suka cerita pertama, ketika Emak membawa dua anaknya ke sebuah rumah di Cikoneng. Manusia betina di rumah itu menerima Emak dan kedua anaknya dengan tangan terbuka. Memberi makan nasi plus ikan tongkol. Sangat lezat setelah sejak pagi hanya makan tulang ikan tak berdaging dari tempat sampah.
Manusia itu juga mengajak Emak bicara dan menggendong dua anaknya. Beda dengan kebanyakan manusia lain yang suka mengusir dengan semena-mena
Tak lama setelah membawa kedua anaknya ke sana, Emak pergi.  Sesekali Emak masih datang. Tapi lama-kelamaan tak pernah lagi.
Dua anak kucing itu tetap tinggal di rumah Cikoneng bersama manusia betina yang semakin hari semakin tuwak dan pelupa. Dua kucing itu adalah Puma dan Naga.

 
Rekomendasi

Sebagai endorser, jelaslah aku merekomendasikan buku ini. Tapi seperti umumnya buku-buku self publishing, Dongengan Naga nggak dijual di toko buku.
Kalo pengen punya buku ini, hubungi aja email dhenok.hastuti@gmail.com  atau FB Cicin Cicin. Cicin itu kucing centil sok cantik dari rumah Cikoneng
Dan mumpung lagi ada di blogku, sekalian mampir deh ke resensi buku-buku ini:


Cheers,
Tria TR

Mohon maaf, komentar dengan link hidup akan saya hapus. Thanks.

Contact Form

Name

Email *

Message *