TB Hendra, Taman Baca Legendaris di Bandung


taman bacaan hendra legendaris di bandung


Bagi pencinta buku di Bandung, TB Hendra adalah surga bacaan.
Aku sendiri udah lama dengar tentang Taman Bacaan Hendra ini. Tapi belum sempat aja main ke sini. Paling pol lewat doang. Sok sibuk mlulu, jadi nggak sempat mampir.

Akhirnya bisa mampir juga ke taman baca ini satu bulan sebelum social distancing pagebluk korona. Alhamdulillah.


Sekilas Taman Baca Hendra

Kenapa taman baca ini legendaris? Tentu, karena usianya yang bukan baru satu-dua tahun.
TB Hendra ini berdiri tahun 1967. Berarti tahun 2020 ini usianya udah 53 tahun! Wow banget nggak sih?
Bertahan lebih dari setengah abad pasti bukan perkara mudah. Banyak, sangat banyak taman bacaan yang udah rontok. Kebanyakan bahkan hilang begitu aja dari ingatan.
Tapi nggak dengan taman baca milik suami istri Edi Huwae dan Juliana ini. Yang dijadikan sebagai nama taman bacaan ini adalah nama anak sulung mereka. Hendra.
Awal-awalnya sih koleksi buku di sini masih dikit. Cuma koleksi pribadi plus milik teman-teman. Perlahan-lahan koleksinya bertambah. Sekarang mencapai jumlah 75.000 buku (termasuk komik).
taman bacaan hendra legendaris di bandung
Dengan Derian, cucu pendiri TB Hendra Bandung.
Sejak tahun 1967 sampai sekarang, lokasi taman baca ya tetap di situ-situ aja. Menempati rumah keluarga di kawasan Cihapit, Bandung.
Bedanya, sekarang di teras rumah dan Taman Bacaan Hendra ini sekarang ada coffee shop. Namanya EncyKoffee. Nama yang nggak jauh-jauh dari perbukuan ya. Ency dari kata Encyclopedia.
Waktu aku tanya kemarin sih, katanya sekarang ada 5.000 anggota terdaftar. Tapi yang aktif cuma sekitar 1.000 orang.
Sekarang, Taman Bacaan Hendra ini dikelola oleh Derian, generasi ketiga. Cucu dari Opa Edi dan Oma Juliana. Di tangan anak milenial inlah EncyKoffee berdiri di teras taman bacaan. Buku dan kopi. Perpaduan sempurna.

Lorong Waktu

Masuk ke ruang taman baca ini aku seperti masuk ke lorong waktu. Kembali ke masa lalu.
Sebuah mesin ketik jadul terletak di meja bulat tepat di depan pintu.
Duuuuh... Mesin tik model itu! Aku sempat memakai mesin ketik jadul begitu ketika mulai menulis cerpen untuk dikirim ke majalah. Beda mereknya doang.
Ketika melihat koleksi buku dan komik di rak-rak yang memenuhi ruangan, rasa tersedot ke lorong waktu itu semakin menjadi-jadi.
taman bacaan hendra legendaris di bandung
Di sebuah lorong waktu.
Gimana enggak. Buku jadul dan komik jadul ada di sini. Yang keliatan nih: komik Trigan, Storm, Arad & Maya, Steven Sterk, Lucky Luke, Tanguy and Laverdure....
Tintin terbitan Indira katanya ada, tapi nggak keliatan olehku. Mungkin komik jadul yang ini disimpan di tempat terpisah.
Di pojok lain ruangan ada buku – buku jadul karya Enid Blyton. Lima Sekawan, Pasukan Mau Tahu, Si Badung, St. Clare, Komplotan, dan banyak lagi. Semuanya kaver lama.
Boleh nih nonton Youtube-nya: 

Buku Jadul dalam Kenangan

Untung-untungan aku nanya tentang buku favoritku waktu kecil. Dongeng HC Andersen? Dongeng putri-putri dari Disney? Candy-Candy? Sailormoon?
Bukan! Selera bacaku dulu bukan yang seperti itu.
"Buku-buku SH Mintardja ada nggak? Nagasasra Sabuk Inten. Api di Bukit Menoreh."
"Ada. Ratusan jilid."
"Mau liaaat...." Ahahaha .... Langsung kalap!
Fyi, aku lebih dulu kenal dan jatuh cinta pada buku-buku silat berlatar sejarah karya SH Mintardja ini daripada novel anak-anak. Dongeng putri-putri yang cantik jelita itu aku baca beberapa tapi nggak sampai ngefans.
Ketika beberapa judul buku karya SH Mintardja disodorkan padaku, lengkaplah sudah perasaan tersedot ke lorong waktu itu.
buku karya sh mintardja
Buku jadul karya SH Mintardja.
Bapakku (almarhum) yang dulu punya ratusan jilid buku silat ini. Aku, si bocah SD yang haus bacaan pun membaca buku-buku itu.
Tapi ketika bapak pindah-pindah tugas lagi ke kota lain, ke pulau lain, pindah-pindah rumah, koleksi buku itu nggak dibawa. Dihibahkan pada teman bapak.
Setelah puluhan tahun, membuka lagi lembar demi lembar buku itu adalah membuka kenangan.
Kenangan pada bapak.
Kenangan masa kecil.
Menghidu aroma buku tua itu tak ubahnya membangkitkan nostalgia. Pada masa yang tak mungkin kembali lagi.

Bernostalgia di Taman Bacaan Hendra

Taman bacaan berusia lebih dari setengah abad ini merupakan tempat paling ideal untuk bernostalgia.
Kalaupun di masa lalu nggak pernah datang ke TB Hendra, koleksi buku-bukunya siap membawa kita menyusuri kenangan.
taman bacaan hendra legendaris di bandung
Ada novelku juga di Taman Baca Hendra :)
Alamat Taman Bacaan Hendra
Jl. Sabang No. 28, Cihapit, Bandung.
Buka setiap hari.
Jam pinjam buku: 10.00 – 19.00 WIB.
Jam baca di tempat: 10.00 – 21.30 WIB.

Uang Pendaftaran: Rp 5.000.
Uang Deposit: Minimal Rp 50.000.
Uang Sewa Pinjam: Rp 3.000 – Rp Rp 15.000 per buku.
Uang Sewa Baca di Tempat: 50% dari uang sewa pinjam.
Masa pinjam: 3 hari (komik), 7 hari (novel).

Cheers,
TR

9 comments

  1. Oh, TB Hendra ini di Cihapit, ya? Deket sama tempat kerja yang dulu kalau gitu. Cuman baru tahu sekarang, ingetnya sih pas SMP ke TB Garuda kalau saya, Teh Eno

    ReplyDelete
  2. Aku mah jurig Kho Ping Ho hahaha ....dan Winetou, pasti ada disana

    Kayanya ada benang merah antara blogger dan penggemar buku sejak kecil ya?

    Sayangnya ngga nurun ke anakku

    ReplyDelete
  3. Waduh aku orang Bandung ga tau soal ini Teh.. Asyik ya bernostalgia di sini..aku penyuka buku-buku Enid Blyton, Herge dgn Tin Tin nya, Karl May... ah kayaknya asyik liat buku2 itu...

    ReplyDelete
  4. Wahh jadi mengenang bacaan jaman dulu banget, ya ampuuun..
    BAcaankus selain majalah Bobo, Kawanku, juga komiknya Mintardja, Kho ping Hoo, hahahaa. Anak-anak kalo keabisan bahan bacaan apa aja dibaca, bapak ibuku doyan baca semuanya

    ReplyDelete
  5. Wahh asik ni klo kesini.
    Kapan kapan klo ke bandung mw mampir sini ah

    ReplyDelete
  6. Lorong waktu benar nih, pasti kalap saya juga. Mengingat buku-buku yang disebutkan Teh Eno mungkin kini susah nyarinya. Ada paling satu dua, kalau seri enggak komplit lagi. TB Hendra, buku dan kopi..pasangan yang serasi!

    ReplyDelete
  7. Ya ampunnnn, surga banget ya ini buat pecinta buku. Aku bahagia liat buku-buku berjejer rapi begitu.

    Ada 1000an yang aktif ya, masih banyak penggemarnya. Semoga taman bukunya tetap tangguh di antara lautan buku online ya. ����

    ReplyDelete
  8. Wah sudah lama aku nggak ke toko buku atau perpus juga mbak, kangen rasanya apalagi baunya pasti khas gitu ya mbak , apa kabar buku buku di toko buiu dan perpus ya

    ReplyDelete
  9. Wooow banget ya Mbak, udah sampai generasi ketiga gini dan tetap lestari. Kereeenn. Membernnya pun udah sampai ribuan gitu.
    Anyway, jangan² buku yg Mbak baca itu hibahan temannya Bapak Mbak, yg dulunya koleksi Bapak Mbak :)

    ReplyDelete

Mohon maaf, komentar dengan link hidup akan saya hapus. Thanks.