Friday, October 21, 2016

Resensi Three Women Looking for Love



resensi novel three woman looking for loveSinopsis

Kami bertiga dipersatukan takdir sebagai lajang terakhir di angkatan SMA. Berusia kepala tiga, kami senasib sepenanggungan. Kami saling berbagi, saling menguatkan, juga saling bersaing diam-diam.

Hanya karena “status”, hidup kami jadi sorotan banyak orang. Kami dipandang sebelah mata. Tapi bagi kami itu biasa. Digunjingkan, itu tak terlalu memusingkan. Masih juga ditambah harus melakukan banyak ritual yang tak masuk akal. Dari mencuri kembang melati di keris pengantin pria, sampai mandi kembang tengah malam. Kami rela melakukan apa saja, asalkan tidak harus makan beling seperti kuda lumping!

“Jodoh itu punya waktu dan caranya sendiri ketika menghampiri. So, don’t worry be happy. Huhuuuy!” (Jani, Rena, Mona)

Ada Resensi

Netty Virgiantini pertama kali muncul dengan novel The Kolor of My Life yang menjadi juara 1 Lomba Cerita Konyol Gramedia 2008. Seperti keempat pemenang lainnya dalam lomba menulis novel tersebut (Rudiyant, Anindita S. Thayf, Triani Retno A, dan Iwok Abqary), Netty juga produktif berkarya. 

Three Women Looking for Love (selanjutnya saya sebut Three Women aja, ya), adalah novel keempat Netty yang saya baca. Sebelumnya saya membaca The Kolor of My Life, Jodoh Terakhir, dan Chemistry of Love.

Three Women, seperti terbaca di sinopsisnya, bercerita tentang tiga perempuan berusia 37 tahun yang masih melajang. Janitra Kusumadewi (Jani), pemilik toko batik “Rumah Batik”. Bungsu dari tujuh bersaudara (dan ini mengingatkan saya pada si penulis yang merupakan bungsu dari delapan bersaudara).

Tokoh lainnya adalah Renata Nefita Wijaya (Rena). Anak tunggal dari mama yang Jawa dan papa yang keturunan Cina. Memiliki usaha pengiriman beras ke luar kota. Tipikal pekerja keras dan pedagang tulen, tetapi temperamental.
Satu lagi adalah Monawati Rahayu (Mona). PNS yang masuk melalui jalur khusus karena bapaknya adalah mantan pejabat yang punya banyak relasi. Anak sulung dari tiga bersaudara.

Cerita dalam novel ini mengalir lancar dan cepat. Dikisahkan dari sudut pandang (point of view – POV) Jani, bergulirlah cerita tentang pencarian jodoh bagi ketiga sahabat ini. Dari sahabat sampai kerabat sibuk mencarikan jodoh. Sibuk mengusulkan ini dan itu agar enteng jodoh.

Dari ketiga sahabat itu, Mona yang paling tertekan. Selain karakternya yang memang supersensitif, juga karena posisinya sebagai anak sulung yang dilangkahi menikah oleh adiknya. Lengkaplah sudah. Tak heran jika Mona pun sering mengajukan usul yang aneh-aneh demi mendapatkan jodoh.

Persahabatan tiga perempuan lajang ini sempat renggang ketika mereka jatuh cinta pada laki-laki yang sama. Satria, si ganteng teman SMA mereka yang juga masih lajang. Persaingan mereka tak berlangsung lama karena Satria menikah dengan gadis lain.

Perjuangan mencari jodoh belum berakhir….

Bagi saya, bagian paling makjleb dalam novel Three Women ini adalah ketika Jani dan Satria sama-sama mengungkapkan rahasia hati mereka. Rahasia bahwa Jani jatuh cinta pada Satria dan Satria mencintai Jani ketika mereka sekelas di SMA. Rahasia yang terpendam puluhan tahun dan terungkap tiga bulan setelah Satria menikah.

Kalau kamu mencari novel amore, novel chicklit, atau sejenis itu yang seting lokasinya bukan di kota besar (terutama Jakarta) dan memiliki sentuhan lokalitas, kamu wajib membaca novel yang sepenuhnya berlokasi di Magetan (Jawa Timur) ini. 


Identitas Buku

Judul Buku: Three Women Looking for Love
Pengarang: Netty Virgiantini
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2012
Tebal: 270 halaman
ISBN : 978-979-22-8913-8


Cheers,
Tria TR

www.adaresensi.com

Mohon maaf, komentar dengan link hidup akan saya hapus. Thanks.

Contact Form

Name

Email *

Message *